Terimakasih untuk sambutan buku gue untuk semuanya

Terimakasih untuk Sambutannya !

A_girl_and_my_book

Kawan-kawan, makasih ya atas sambutannya untuk buku gue…baik yang datang di launching, kirim ucapan selamat via sms, facebook, friendster, ketemu langsung ataupun yang udahk pada beli bukunya….

Sukses untuk kita semuanya.

Salam

Wilson

Dscf6288 Marsilam Simanjutak

Selamat lagi atas penerbitan bukumu

Agung Putri (Direktur ELSAM)

SELAMAT buat

wilson

!

Nezar Patria (mantan redaktur Tempo, mantan sekjen SMID dan AJI, sekarang dimana bung?)

Son, Selamat buat bukumu itu. Aku mudik harus ke Yogya jumat kemarin, nggak bisa hadir

Sr Amanda (Biara Theresia)

Sukses ya dan Proficiat untuk bukumu, jagnan lupa simpan 1 untuku. God Bless You.

Niken (Alumnus Rusia)

Wilson

tadi sukses ya? Banyak yang dating? Maaf sya tidak bisa datang ya.

Riri (Litbang KOMPAS)

Trims infonya broer. Tapi sorry ngak bisa hadir karena mesti cabut ke jateng.

Irina Nyoto

Wilson

makasih undanganya. Kalau sudah sehat, aku usahakan datang. Sukses terus.

Wierayanti (Voice of Human Rights)

Wilson

, sorry tadi gak bisa datang launching bukumu. Sukses untukmu ya.

Andi Achdian (Sejarawan dan pegawe TIFA)
at 11:06pm on June 19th, 2008

gue udah pasangin tuh gambar cover bukunya di grup sejarah

indonesia

Iskandar Nugraha (

Australia

)
at 3:01pm on June 19th, 2008

congratulations... well done

Wilson

!

Muhammad Husni Thamrin (FNS)
at 2:51pm on June 19th, 2008

Launchingnya kapan sih.....? Enak pas launching bisa beli sama tandatangan penulis (masa Dian Sastro sih....?) :

Irine Gayatri (Peneliti LIPI)
at 1:16am on June 18th, 2008

Selamat atas peluncuran buku barumu!!

Dscf6193 Lasja F. Susatyo (Film maker,

Jakarta

)

at 5:13pm on June 27th, 2008

selamat buat peluncuran bukunya yaa.

Upik Soedijono (ibu guru )
at 9:45am on June 27th, 2008

kalo gak bisa dateng pas peluncuran buku luh, simpenin 1 buat guah ya..

Lexy (pembuat film documenter)

selamat peluncuran besok ya

wilson

.
salam sangat

Ben Abel (

Cornell

University

)

June 27 at 1:42am

bung

wilson

, slamat atas buku baru nazi endonesya; apa kabar?

Edward Aspinall (Australian National University di Canberra)

June 19 at 2:41pm

Anyway, salam ya atas penerbitannya.

Asvi Warman Adam (Peneliti  LIPI)

Orde Baru dikaitkan dengan Hitler dan Mussolini.

Ada

tulisan Ryadi Gunawan (alm) yang juga mencoba melacak sejarah istilah Orde Baru itu. Tetapi saya kira bisa pula disangkutkan dengan Estado Novo dari Salazar. Dan Salazar adalah pemimpin fasis yang paling lama berkuasa (1928-1968).

Liem Soei Liong (Tapol,

London

)

trims atas undangan, sayang nggak bisa hadir karena masih berada diluar
Indonesia.Memang orang2 dan fikiran2 fasis di

Indonesia

masih terlalu banyak dan
orang tidak terlalu sadar akan bahayanya

Wahyu Soesilo (INFID)

Wilson

, sejarah selalu relevan. Berbahagialah kita yang selalu belajar pada sejarah..Kalo ada yang bisa nganterin bukumu ke INFID barang 5-10 eks. Mungkin INFID mau ikutan ngabisin bukumu.. hehehehe

Ibu Ade R.S (aktivis HAM)

Terima kasih  atas undangan peluncuran buku, saya tidak hadir karena harus berobat. SELAMAT.

Rasyidi (Lembaga Bantuan Hukum Rakyat, Palu, Sulteng)

Bung Wilson Selamat atas launcing bukunya.
Sayang kita ngga bisa hadir. Soalnya lagi di Palu. Oh iya, ada salam
dari bung Gogol di ADAM.
Bolehkah kita di Palu dikirimkan bukunya?
Salam

Erwin Basrin (Bengkulu)

Menarik sekali buku ini, tapi sayang jauh sekali Bengkulu ke Jakarta sehingga saya tidak bisa hadir di bedah buku ini, apakah saya bisa dapat buku bagus ini mas..?? Sekaligus tanda tangan penulisnya.? heee..hee

Salam

Luki (di Aceh)

Dear Wilson,

Terimakasih undangannya. Sayang aku masih di Aceh. Bagaimana cara mendapatkan bukumu itu?

Salam,

Wls_peter_fay_fauzie  Erix Hutasoit (Communication and Advocacy Manager Caritas Keuskupan Sibolga)

Bung 

Wilson

,

Wah saya ucapkan selamat buat launching buku bung. Sama seperti bung, saya juga teman Coen Husain Pontoh. Tapi saya tidak sehebat bung berdua. Dimata saya, orang-orang seperti bung

wilson

dan Coen adalah aset untuk peradapan dunia. Some day saya berharap bisa menghasilkan sesuatu yang bisa saya bagikan..

Saya ingin sekali mendapatkan edisi pertama dari buku yang bung tulis. Tapi ditempat saya bekerja tidak ada toko buku seperti Gramedia atau Toga Mas. Nias hanyalah pulau kecil yang kebetulan terkenal karena tsunami dan gempa bumi.

Harapan saya satu-satunya adalah ke

Medan

, ibu

kota

propinsi sumatera utara. Saya bisa meminta seseorang untuk membelikan buku bung lalu mengirimkan kepada saya. Tapi saya mencari buku di Gramedia bukan hal yang mudah. Saya pernah mencari buku Coen tentang Militerisme (Mitos Tentara Rakyat) dan Akhir Globalisasi. Saya tidak mendapatkannya di Gramedia

Medan

. Saya tanya kenapa tidak ada, Gramedia tinggal jawab," Stock nya terbatas."

Jika memungkinkan, apa saya bisa mendapatkan buku itu dari bung. Atau bung bisa membantu saya mendapatkan buku itu dengan lebih mudah.

Jika mungkin, bagaimana cara mendapatkan buku itu. Kemana saya harus menghubungi dan berapa biaya yang harus saya penuhi ?

Di Nias, wacana-wacana progresiff itu sangat terbatas. Kami kekurangan literatur dan referensi untuk mendiskusiskan hal-hal seperti itu. Saya akan sangat senang sekali jika bisa mendapatkan copy-an buku tersebut. Setidaknya kami bisa memulai mendiskusikan "fasisme" disini..

salam,

Heny (penulis)

menarik banget!

produktif amat nih...

sukses terus ya!

Nane

Selamat atas peluncuran bukunya ...

en sukses terus yaa ..

salam buat keluarga!

Bengar Gurning (Pengacara penggemar musik art rock 70-an)

Selamat ya bung buat peluncuran bukunya, simply kereenn!! Keep on rockin' bung...setidaknya siang hari tadi bakal terpampang dalam epitaph kita entar...well see you arround bung!!

Raisah (alumnus filsafat UGM)

Sori, ga bisa datang ke Galery Publik siang ini. Lg sakit tenggorokan nih, ga bs banyak omong. Sukses buat bukunya, ya...

Iyan (jurnalis, mantan ketua LMND)

Selamat Bung atas buku barunya. Rencananya mau aku resensi nih, buat berbagi wawasan untuk masyarakat di Banten. Terlebih, warga Banten kerap dijadikan alat untuk pembangunan fasisme. Konon anggota Kamra dan Pam Swakarsa banyak direkrut dari Banten. Tapi ada beberapa yang terlewat dari buku yang kau tulis. Kapan2 kita ngobrol banyak Bung. Tapi yang jelas, gurat pikirmu relevan dengan situasi sekarang yang kemungkinan besar membuka ruang bagi fasisme untuk menguat atau sengaja dikuatkan untuk kepentingan segelintir elit.

Nor Hiqmah (Mantan Pacar, temen tidur, istri, sahabat dan mitra)

mantan pacarku ini makin produktif aja, selesai pembuatan film not for sale, udah bikin buku - selamat atas buku barunya, dan sekarang lagi nulis buat buku lagi dan buat film lagi.. jadi makin bangga aja aku sama dia.. bagaimana mungkin aku tidak tambah sayang dan cinta mati....



                            

Logo_phrn1
Dari tangal 14 sampai dengan 17 Juni 2008, guah  mewakili Perkumpulan Praxis hadir sebagai pembicara  dalam acara "PERTEMUAN NASIONAL HARM REDUCTION (PNHR) KE-II MAKASSAR, 15 – 18 Juni 2008". Acara diadakan di Hotel Clarion makassar.Guah  hadir di Sesi Utama A3, Senin 16 Juni 2008, Pukul 13.30-15.00  dalam diskusi panel bertema Aspek Ideologi Dan Politik Dalam Kebijakan Napza.  Guah membawakan paper berjudul "“ War on Drugs” dan Politik Tersembunyi Amerika Serikat."  Hadir juga sebagai pembicara Dr Paulus dari Fisip UI, Dosen dari Univ Syiah Kuala Aceh dan Inang dari sekretariat Komisi Pemberantasan Aids (KPA).
Hal penting dari  pertemuan ini menurutku adalah lahirnya 'gerakan sosial baru' Persaudaraan Korban Napza Indonesia", sebagai suatu  'embrio' organisasi masa para korban napza. Selama ini  hukum positif di indonesia, juga seluruh  perangkat dan penegak hukum di Indonesia memperlakukan korban sama seperti para pedagang narkotik.
Panitia tahun ini sengaja menambahkan sesi ideologi dan politik dalam diskusi  panel utamanya untuk menjelaskan bahwa soal  politik Napza ternyata berkait dengan kepentingan ideologi politik yang lebih luas. Selama ini soal napza hanya  dibahas dari sisi medis dan hukum positif.
Dalam sesi diskusiku lumayan bagus respon dari  peserta.  Terutama karena mereka mendapatkan hal baru bahwa pendekatan penanganan napza di indonesia meniru pendekatan dari amerika serikat dalams trategi "war on drugs" yaitu sangan mengedepankan "repressive atau military Heavy".  Artinya para korban napza  ditangani oleh alat-alat represif negara seperti polisi dan militer. Untuk itu diciptakan hukum positif/UU yang melakukan kriminalisasi atas korban. Karena itu penangannya adalah dengan cara di tangkap dan dipenjara atau lebih menkankan aspek PENGHUKUMAN kepada korban.
Metode yang sarat kekerasan dan sarat dengan pelanggaran Ham ini tentu saja sudah dapat diramalkan akan terjadi, Sebab BNN dan pemerintah RI   'dibina' oleh AS dalam hal strategi, pelatihan dan 'cara berpikir' dalam menangani napza.
Begitulah sedikit cerita dari Makasar, selanjutnya silakan baca paper saya di bawah ini ya, dan disebarluaskan juga boleh..monggo..mongo
salam
Wilson
Harm_red_1

“ War on Drugs” [1] dan Politik Tersembunyi Amerika Serikat

Oleh Wilson

“War on Drugs” tiba-tiba saja menjadi wacana ‘perang global’ dari berbagai pemerintah paska hancurnya perang dingin diakhir tahun 1980-an. Wacana ini pertama kali muncul pada tahun 1982, ketika pemerintahan Reagan mendesak kongres untuk mendukung pemerintah menjalankan program “war on drugs”. Dalam retorik Reagan dikatakan "to cripple the power of the mob in

America

.”

Ironisnya, pemerintahan Reagan pada saat yang sama justru bekerjasama dengan mafia narkotik untuk membiayai gerilyawan Contra untuk memerangi pemerintahan sayap kiri pimpinan Daniel Ortega di Nikaragua. Dan pada saat yang sama pemerintah  Amerika mendukung ‘berbagai kelompok militer sayap kanan’ di Amerika Latin yang mempunyai kaitan dengan organisasi narkotik dan membentuk blok politik narko-militeris yang represif.

Di era Reagan justru banjir narkotik masuk ke Amerika dengan difasilitasi dan dibekingi oleh CIA dan Pentagon dan organisasi rahasia yang dipimpin Oliver North.  Selama hampir satu decade  CIA dan Pentagon mendukung dan melindungi perdagangan narkotik terbesa di dunia yang menyuplai hampir 50 persen kokain yang dikonsumsi di amerika. [2]

War on Drugs kembali muncul diakhir pemerintahan Reagan ditahun 1988, ketika musuh  perang dingin Amerika Serikat yang bernama blok komunisme dianggap telah ambruk dan transisi demokrasi mulai menggerogoti rejim-rejim korup-otoriterian sayap kanan yang menjadi sekutu tradisionil amerika serikat diberbagai belahan dunia seperti

korea

selatan, Filipina dan terutama di Amerika Latin dan Tengah.

Hancurnya komunisme menyebabkan  pemerintah Amerika Serikat kehilangan legitimasi untuk dapat menjadi ‘polisi dunia’ sebab ancaman atas Amerika dan sekutu-sekutunya dari rejim komunis dianggap sudah tak relevan. Karena itu sebuah ‘monster baru’ harus diciptakan, sebagai legitimasi intervensi global amerika dalam urusan dalam negeri orang lain, dan memberikan bantuan politik kepada sekutu-sekutu ideologisnya. Monster baru paska perang dingin itu lalu diciptakan di akhir tahun 1980-an dan awal pemerintahan George Bush senior ditahun 1990-an dalam wacana “war on drugs”. Perang ini berhasil mendapatkan dukungan kenaikan bujet hampir sepuluh kali lipat, dari $1.2 billion pada tahun 1981 menjadi $11.7 billion dalam tahun 1992.[3]

Kata ‘perang’ digunakan juga mempunyai  arti politik. Sebab ‘perang’ berarti melibatkan militer sebagai garda depan. Karena itu operasi militer, bantuan militer, pelatihan militer dan kegiatan inteljen  menjadi ‘program utama’ dari strategi ini.  Karena itu program ‘war on drugs’ lebih kelihatan sebagai suatu proyek ‘militerisasi’ yang lebih bertujuan politik dan ideologis, ketimbang upaya untuk memeranginya.

Setelah tragedy 

11 September 2001

, Amerika Serikat secara sistematis menarik bandul politik dunia kedalam “perang melawan terorisme sebagai suatu ‘perang globall’. Pemerintah amerika serikat  lalu menciptakan ‘definisi terorisme’ sesuai dengan kebutuhan politik dan ideologinya. Akhirnya kebijakan perang melawan terorisme yang dikibarkan amerika, justru menjadi tidak berbeda dengan terorisme yang hendak mereka hancurkan sendiri. Nasib yang sama juga terjadi dalam ‘war on drugs’, Bila meminjam ungkapan Uskup Dom Herder Camara, ‘obat yang ditawarkan lebih beracun dari penyakit yang hendak disembuhkan.” Dalam kenyataan yang tak jauh berbeda, amerika serikat juga telah ‘merekayasa musuh global’ menurut kepentingan politik dan ideologinya dalam kasus perang menghadapi komunisme dan ‘perang melawan narkotik’.

Saat war on drugs menjadi strategi bagi intervensi amerika untuk menjadi polisi dunia paska perang dingin , tiba-tiba saja terjadi peristiwa

11 September 2001

. Tiba-tiba saja perang atas narkotik diintegrasikan dengan perang melawan terorisme, sehingga lahirklah wacana narko-terorisme. Wacana ini berarti terjadi saling terkait antara terorisme dengan perdagangan narkotik, karena itu perlu satu kesatuan program untuk memeranginya. 

Istilah narko-terorisme pertama kali digunakan kepada kelompok mafia perdagangn narkotik di kolombia dan

Peru

yang menggunakan cara-cara teroris untuk memberikan tekanan politik kepada pemerintah seperti pemboman, pembunuhan politik dan penculikan. Di kedua negara tersebut kerjasama bilateral militer amerika serikat dengan unit militer anti narkotik sudah terjalin lama. Namun kemudian DEA ‘memperluas’ definisi narko-terorisme sekaret mungkin. Narko-terorisme didefinisikan sebagai keterlibatan kelompok atau individu dalam hal pemajakan, penyediaan keamanan atau membantu  perdagangan narkotik dalam rangka untuk menyebar luaskan atau mendanai kegiatan terorisme.

Definisi ini  sangat karet dan dalam prakteknya disalahgunakan secara luas oleh rejim-rejim ororiter  untuk menghadapi oposisi dan perlawanan rakyat. Di Kolombia unit anti narkotik binaan amerika serikat lebih banyak memerangi gerilyawan FARC dan oposisi  ketimbang menangkapi para bandar narkotik. Hal yang sama terjadi di

Peru

, unit anti narkotik binaan AS lebih banyak digunakan sebagai  alat politik melawan gerilyawan Maoist Shining Path. Akibatnya pelanggaran Ham atas rakyat sipil menjadi sistematis dan meluas dengan pembenaran ‘war on drugs”.

Harm_red_2

“Politik Narkotik” Amerika Serikat

Sejarah keterlibatan pemerintah AS dengan isu narkotik sangat terkait dengan kepentingan ideologi dan politik global  Amerika Serikat itu sendiri.

Perang melawan perdagangan narkotik juga menjadi strategi pemerintah AS untuk melakukan intervensi secara tidak langsung kendalam negeri dunia ketiga, dan memelihara sekutu-sekutu dan boneka politiknya dilingkaran militer local dan regional. “Politik narkotik”  AS dapat ditelusuri pada Perang Dunia II dan operasi inteljen mendukung militer Koumintang untuk menghadapi komunis Cina paska revolusi Cina di bawah Mao Tse Tung guna mencegah ‘teori domino’ penyebaran komunisme terjadi di Asia Tenggara.

Keterlibatan pemerintah AS secara politik dalam bekerjasama dengan pengedar narkotik dapat ditelusuri pada strategi AS dalam Perang Dunia ke II. Ketika itu The Office of Strategic Services (OSS) yang kemudian menjadi CIA, membangun hubungan dengan para pimpinan mafia dunia hitam  Italia di New York dan Chicago seperti Charles 'Lucky' Luciano, Meyer Lansky, Joe Adonis, dan  Frank Costello, para pimpinan mafia yang membangun jaringan di AS ketika Italia dibawah diktator fasis Benito Mussolini. Tugas mereka adalah melakukan sabotase atas pelabuhan di pantai Timur dan mengawasi sekutu-sekutu  pemerintahan fasis. Namun kemudian peran mereka juga diperluas untuk mengawasi dan menghancurkan serikat buruh dan kaum kiri di Italia, yang saat itu menjadi garda terdepan melawan fasisme dan mempunyai pengaruh luas di serikat buruh.[4]

Luciano, pimpinan mafia Italia di

New York

, sempat ditahan karena kejahatan teroganisirnya di Amerika, namun kemudian di bebaskan karena bantuannya selama PD II dan kemudian diperbolehkan kembali ke Italia. Dari Italia dia membangun imperium heroin yang ia datangkan dari Turki dan

Lebanon

dan diproses dalam laboratorium  di Sisilia.

Setelah Perang Dunia II berakhir, kerjasama dengan mafia Italia dilanjutkan. Pada tahun 1947, ditahun awal pendiriannya, CIA melanjutkan jaringan komunitas inteleljen dengan mafia untuk memerangi komunisme, ketika dunia memasuki awal perang dingin. CIA dan mafia korsika juga menjalankan operasi untuk memerangi serikat buruh kaum kiri yang menguasai pelabuhan di Marseille. Setelah menghancurkan kekuatan serikat buruh kiri, mafia Italia praktis menguasai pelabuhan. Selama 25 tahun kemudian kontrol mafia atas pelabuahan di

Marseilles

menjadi sarana untuk mengirim heroin ke Amerika Serikat.   CIA juga mulai membangun kontak dengan mafia di Jepang, Yakuza, untuk mengawasi dan menjamin Jepang tetap menjadi negara non-komunis.  Sebagai balasannya Yakuza tumbuh menjadi penyalur methamphetamine paling terkemuka di

Hawaii

Amerika Serikat juga terlibat dalam  produksi dan perdagangan opium di kawasan  Gold Crescent (bulan sabit emas) di Iran, Afganistan dan Pakistan dan Golden Triangle (SegitigaEmas) di Burma,Thailand dan Laos. Di kedua kawasan tersebut CIA bekerjasama dengan podusen opium dalam kerangka Perang Dingin yaitu membendung ekspansi komunis dari Uni Soviet dan RRC.

Ketika tentara pembebasan rakyat pimpinan Mao Tse Tung menguasai RRC pada tahun 1949, pasukan kou min tang (KMT) dibawah pimpinan jendral Lu  Han dipukul mundur hingga keluar RRC dan menetap di perbatasan

Burma

. Pada tahun 1950 ribuan tentara KMT  yang ada di

Laos

  ikut bergabung di perbatasan

Burma

untuk membangun basis perlawanan menghadapi pemerintahah komunis RRC. 

Dalam situasi ini, Amerika serikat memasuki pertempuran dengan memberikan dukungan kepada KMT . Dukungan pada Koumintang ini menurut pemerintahan Truman “to  block  further Communist expansion in

Asia

."  Pada bulan april 1950 Joint Chief  of  Staff (JCS) menyarankan kepada Sekretaris Pertahanan untuk menjalankan  "a program of  special covert operations designed to interfere with Communist  activities in 

Southeast Asia

..." [5]

Pada tahun 1952-53 di kawasan segitiga emas CIA  bekerjasama  dengan tentara Kaou Min Tang (KMT) yang anti komunis  untuk membendung ekspansi RRC dan mendapatkan  dana untuk melawan komunisme Cina. Di Laos ntara tahun 1960-1975, CIA mengontrol trasnportasi udara  heroin dari

Laos

. Dana dari heroin digunakan untuk perang melawan Vietnam Utara, dibawah pejuanglegenda Ho Chi Minh sedang berjuang melawan kolonialisme Prancis dan pemecahan

Vietnam

  Selatan oleh Amerika Serikat. Heroin juga disuplai untuk para tentara Amerika di Vietnam.

Di kawasan Bulan Sabit Emas,  pada tahun 1979 tentara Uni Soviet melakukan invasi ke Afganistan dan mendirikan rejim komunis boneka. CIA membantu para pemberontak bersenjata diperbatasan untuk melawan rejim komunis Afganistan yang didukung UNi Soviet. Untuk operasi tersebut CIA bekerjasama dan mendapat dukungan dana dari perdagangan opium dan kelompok Taliban di bawah pimpinan Osama bin Laden. Kelompok Taliban didukung oleh CIA dengan senjata dan informasi inteljen untuk melawan rejim komunis Afganistan. Kekuasaan Kaum Taliban di Afganistan akhirnya digulingkan kembali melalui invasi militer oleh pemerintah Amerika Serikat paska tragedy

11 September 2001

. Selain kepentingan ideologis, kerjasama dengan jaringan pedagang narkotik dan Osama bin Laden  juga ditujukan untuk menjaga kepentingan  pipa gas daa minyak perusaan minyak AS UNOCAL.[6]

‘War on Drugs’ Paska Perang Dingin

Pada akhir tahun 1980-an perang ingin berakhir dengan simbol dirubuhkannya tembok Berlin di Jerman secara dramatis .  Pada  tahun  inilah Presiden AS Ronald Reagan (1980-1988) mulai menformulasikan kebijakan anti narkotik dan mulai menggunakan kata ‘perang’ dan keamanan nasional. Penciptaaan ‘musuh baru’ sebagai ‘ancaman keamanan’ bagi amerika adalah strategi klasik amerika untuk tetap mempertahnkan hegemoni politiknya paska perang dingin usai. Hancurnya Uni Soviet jelas kemenangan bagi kubu kapitalis, untuk itu harus diciptakan ‘monster baru’  untuk tetap menjaga  tugas patriotik pemerintah AS untuk menyelamatkan dunia (sic !). Seperti dikatan oleh Bush senior.“ 'Drugs are sapping our strength as a nation...here is not match for a United America, a determined

America

and angry

America

. Our outrage against drugs unites us all. “

Dengan Perang melawan narkotika yang didefinisikan sebagai ‘ancaman  keamanan’ maka intervensi amerika dipandang sebagai ‘self defence’ daripada melakukan intervensi atas urusan dalam negeri negeri lain. Bantuan pelatihan dan dana mengalir kepada rejiim-rejim korup dan kekuatan sayap kanan yang mempunyai keterpautan dengan perdagangan narkotik itu sendiri.Perang melawan narkotik menjadi justifikasi bagi intervensi AS dimana rejim-rejim otoriterian (militer) yang menjadi pelindung kapitalsme AS di AMerikat Latin sedang mendapatkan ancaman. Jadi bukan kebetulan bila pernyataan perang melawan narkotik ini berbarengan dengan proses transisi demokrasi di Amerika Latin, dimana banyak kekuatan sayap kanan mulai kuatir dengan hegemoni politik mereka.

Kecenderungan globalisasi ekonomi dan integrasi ekonomi  regional (the North American Free Trade Agreement, Mercosur, the Central American Integration System, the Andean Pact, the Caribbean Community) telah mengakselerasi proses transnasionalisasi  dari sturktur yang mengkoordinasikan ‘perang melawan narkotik” . Bagi militer, misi penyerangan melawan narkotik  adalah mesin yang penting untuk melakukan koloborasi lintas negara, tentu saja semuanya di bawah komando Amerika Serikat. Koloborasi militer dengan amerika, terutama di amerika latin, membawa implikasi-implikasi politik yang lebih luas, sebab perang melawan narkotik itu, juga menjadi alat konsolidasi dari kekuatan ‘state-terorism’ untuk melakukan ‘perang kotor’ melawan musuh-musuh ideology Amerika di amerika selatan dan tengah.

Akibatnya, perang melawan narkotika, lebih dilihat sebagai ‘pintu masuk’ atau politik intervensi amerika, untuk  menjaga ‘poisis politik’ sekutu-sekutu militernya  untuk dapat disetir menurut kepentingan politik dan ekonomi amerika serikat. Kasus Noriega di Panama, dukungan pada gerilyawan contra di

Nicaragua

,  adalah contoh bahwa perang melawan narkotika, hanyalah ‘topeng politik’ untuk melegitimasi politik

washington

atas negara-negara amerika latin dan tengah. Seperti dikatakan oleh Peter Dale Scott “ Today the United States, in the name of fighting drugs, has entered into alliances with the police, armed forces, and intelligence agencies of Colombia and Peru, forces conspicuous by their own alliances with drug-traffickers in counterinsurgency operations.”“ The agency [CIA] gave them money under counternarcotics and they used their money to do other things in the political arena." [7]

Dimasa Bush senior, Seakretaris pertahanan AS William Perry dalam pertemuan para mentri pertahanan di Bariloche, Argentina, pada bulan Oktober 1966 menyatakan bahwa perdagangan narkotik adalah fenomena internasional, dan tidak mengenal batasan, yang mengakibatkan pemerintahan nasional tidak menguntungkan untuk melawannya sendirian. Pada tahun 1997 diadakan peremuan ketiga mentri pertahanan yang diadakan di

Cartagena

,

Colombia

, sebuah negeri yang sangat mendukung strategi  global AS  dalam perang melawan narkotika. Dalam pertemuan ini secara bertahap konsep keamanan nasional mulai digantikan dengan konsep keamanan secara kontinental, yang dipimpin oleh amerika tentunya.

Pada tahun 1992 dalam San Antonio Aericas Summit President Bush kembali mengajukan proposal sebuah kekuatan militer multilateral untuk memerangi perdagangan narkotika di Amerikat Latin. Dalam peremuan di Bariloche gagasan dari Bush ini diangkat kembali. Kali ini gagasan ini diangkat oleh mentri pertahanan kolombia Juan Carlos Ezguerra Portocarrero. Dua proposal sekretaris pertahana AS William Perry dibicarakan di Bariloche. Pertama, membuat pusat pelatihan militer regional di Amerika Seriakt untuk menghadapi perdagangan narkotik. Kedua, menghubungkan jaringan inteljen militer dalam perdaganan narkotik melalui Pentagon. Proposal dari amerika ini ditolak oleh

Argentina

,

Brazil

,

Mexico

dan

Uruguay

yang tidak sepakat untuk melanjutkan kerjasama militer dalam isu narkotika dan menolak gagasan kekuatan multilateral menghadapi narkotik. Menurut Sekretari Kementrian Luar negeri  Brazilia “ it violates the principles of self-determination.”

Tapi bukan Amerika Serikat namanya bila tidak maju terus memaksakan gagasannya. Kerjasama militer ‘war on drugs’ tetap dijalankan, caranya dengan membangun kerjasama bilateral dengan kekuatan ‘sayap kanan’, baik sipil maupun militer diberbagai negeri di Amerika Latin. Kerjasama bilateral tersebut meliputi program asistensi untuk melibatkan militer lebih jauh dalam perang melawan narkotik. Untuk menarik kerjasama bilateral, pemerintah  AS pada paruh kedua tahun 1996 meningkatkan dana untuk perang melawan narkotika, bantuan perlengkapan militer, menghentikan pelarangan penjualan senjata kepada militer seperti dalam kasus Peru; menyediakan akses bagi militer Argentina untuk berbagai perlengkapan persenjataan seperti aircraft dan missiles; dan memberikan beberapa helicopter kepada milier  kolombia dan mexico untuk memerangai narkotika.

Semua kerjasama bilateral ini, telah mengkosolidasikan kekuatan ‘militer’ di amerika latin yang sejak lama menjadi sekutu setia amerika serikat. Akibatnya terjadi proses ‘militerisasi’ dalam proyek-proyek “war on drugs’ di amerika latin.[8]

Di Mexico, Kelompok Kerja Pertahanan AS dan

Mexico

selama setahun seluruh posisi penting lembaga ini jatuh ketangan militer (atau pensiunan jendeeral). Demikian juga dengan lembaga-lembaga lainnya yang dibantu pemerintah AS: The National Institute for the Fight Against Drugs;

Federal

Judicial

Police

dan

Center

for Drug Control Planning. Sementara unit-unit militer digunakan untuk memerangi perdagangan narkotik .

Di Panama Sekretaris Kementrian

Panama

mengajukan proposal pembangunan pangkalan militer bersama dengan militer

US

dengan alasan untuk menhadang perdagangan narkotik. Namun tujuan sebenarnya dari pendirian pangkalan adalah untuk melanjutkan keberadaan tentara US di terusan Panama yang akan berakhir pada 31 Desember 1999.Jendral Barry McCaffrey, salah seorang pensiunan jendral yangtelibat dalam upaya ini, yang jug mantan pimpinan head of the US Southern Command (SOUTHCOM) di Panama merekomendasikan pengiriman 5000 anggota pasukan ke sini.

Brazil

juga terlibat dalam operasi  perang melawan narkotik yang dipimpin AS ini.  Di Argentina sendiri pemerintahan Menem dan

US

menyepakati perjanjinan kerjasama militer diantara kedua negara.

Dewan Keamanan Nasional

US

juga mengajukan proposal untuk pembentukan Latin American Air Force untuk memerangi perdaganan narkotika. Untuk itu Pentgon akan dikirim 70 pesawat

Colombia

,

Mexico

,

Venezuela

,

peru

, dan equador. Untuk keperluan proyek ini Pentagon akan mengucurkan dana sebesar US $ 400 juta, jumlah dana terbesar dalam sejarah transter pesawat di amerika latin. Semua kerjasama bantuan dan operasi militer telah meningkatkan anggaran perang melawan narkotika di pemerintahan

Clinton

hampir tiga kali lipat yang ditujukan untuk militer dan polisi di amerika latin.

Militerisasi dan Politik Sayap Kanan

Selama Perang Dingin   kebijakan AS terrhadap Amerika Latin adalah dengan cara mndukung pemerintahan otoriterian yang dikusai oleh militer. Militer menjadi sekutu paling dipercaya untuk menghadapi bahaya komunisme dan perlawanan rakyat. Dengan  berakhirnya perang dingin dan tuntutan tanggung jawab pelanggaran Ham atas para jendral selama berkuasa di amerika latin, pemerintah AS tetap harus menjaga dan merawat hubungannya dengan para jendral atau militer di amerika latin dengan mengambil isu perdagangan narkotik. “ they remain driven by the belief that the best way to achieve their goals is to strengthen military-to-military ties. “ Program pelatihan militer terus dilanjutkan sebagai upaya untuk mengikat militer amerika latin untuk keppentingan

Washington

.

Sejarah historis, kerjasama AS dengan militer di Amerika latin telah berumur panjang. Banyak para jendral yang berkuasa di Amerika Latin   adalah anak didik militer AS dalam program pelatihan bagi para perwira militer yang dikenal dengan nama U.S. Army's School of the Americas (SOA). SOA didirikan pada tahun 1946 di Pangkaalan Komando US di Panama dan kemudian dipindahkan ke

Ft.

Benning

. Selama 50 tahun beroperasi sekolah militer ini menghasilkan 58.000 lulusan dari seluruh negeri di Amerika Latin, Amerika Tengah dan Karibia.  Untuk membiayai  sekolah bagi sekutu-sekutu militer AS ini dihabiskan biaya sekitar  18 juta dolar.

Sekolah ini melahirkan banyak sekali para diktator dan jendral yang terlibat langsung dalam pelanggaran Ham berat di Amerika Latin  dan Amerika Tengah sehingg sering dijuluki sebagai “ Sekolah Para Pembunuh ("

School

of

Assassins

") dan “Sekolah Bagi Para Diktator ("School for Dictators.") Sejak tahun 1960-an banyak sekali lulusan SOA yang menjadi kepala negara di 6 negara yang berbeda  dan menerapkan kekuasan otoriter ,militeris dan anti demokrasi. Termasuk disini adalah  jendral Manuel Noriega in

Panama

, Jendral  Roberto Viola di Argentina, dan Brigadir Jenderal Juan Melgar Castro di Honduras. Pada tahun 1993, menurut Komisi Kebenaran PBB sekitar 69 orang perwira alumni sekolah ini masuk dalam daftar para pelanggar ham berat selama perang sipil, pembentukan pasukan pembunuh, penculikan dan pembunuhan atas warga sipil di di El Salvador, Honduras dan Peru.

Dengan berakhirnya perang dingin, proses demokrasi di Amerika Latin semakin memojokan sekutu tradisionil US di Amerika Latin. Namun pemerintah AS tetap mencari akal agar kerjasama militer dengan kolega-kolega militer dari Amerika Latin dapat dilanjutan. Seperti yang dikatakan angota kongres dari republik. Bob Barr (R-GA) pada bulan September 1997 dalam upaya mendukung pemerintah AS untuk terus membiayai SOA "The cold war may be over, but the war against narcotics traffickers is not." Pemerintahan Clinton mengambil posisi yang sama ketika menolak usulan penutupan SOA karena pelanggaran Ham yang dilakukan para alumnusnya dengan menganggap tetap dibutuhkan untuk perang melawan narkotik.

Tidak peduli dengan kritikan menyangkut Ham, pemerintah AS tetap  memberikan pelatihan khusus dengan ‘kedok’ perang melawan narkotik kepada sekutu-sekutu militernya dari Amerika Latin, Tengah dan Karibia. Dibuatlah pelatihan militer melawan narkotik di Army's Jungle Operations Training Center di Fort Clayton dan di Naval Small Craft Instruction and Technical Training School di Rodman Naval Station (keduanya berbasis di Panama) Namun program pelatihan ini  ironisnya justru juga diikuti oleh para perwira militer yang dikenal luas sebagai bagian dari jaringan narkotik itu sendiri. Misalnya saja di

Peru

,

Guatemala

,

Colombia

,

Mexico

, dan beberapa tempat lainnya, banyak para perwira militer yang direkrut dan dilatih untuk perang melawan narkotik justru mempunyai hubungan dekat dengan jaringan narkotik di Amerika Latin.

Selain itu, para perwira yang dilatih untuk perang melawan narkotik, dalam banyak kasus, bukannya menggunakan unit-unit militer untuk menyerang  organisasi narkotik, tapi justru lebih sering digunakan untuk menyerang ‘rakyat sipil’, oposisi dan aktivis. Sehingga didapat fakta bahwa pelatihan yang diberikan justru digunakan untuk melakukan pelanggaran Ham berat secara sistematis. Pada tahun 1973 Kongres AS menemukan bahwa pelatihan tersebut digunakan oleh militer dan polisi untuk melakukan pelanggran Ham berat di Uruguay, Argentina dan berbagai tempat ltlainnya di Amerika Latin.Kongres juga kemudian melarang bantuan dana dari State Department's Bureau of International Narcotics and Law Enforcement Affairs (INL) kepada unit-unit militer yang terbukti kuat bertanggungjawab atas pelanggaran ham berat. Salah satu sekutu Amerika  yang diduga harus bertangungjawab atas  pelanggaran Ham berat yang mengakibatkan tewasnya sekitar 20.000 warga sipil di guetemala adalah jendral Julio Roberto Alpirez, jebolan dari  the US Army's School of the Americas (SOA). [9]

Para

perwira militer binaan AS yang terlibat dalam perdagangan narkotik, juga terlibat dalam upaya politik untuk  membunuh dan merebut kekuasaan politik dari para pimpinan negara atau poloitisi yang tidak ramah dengan politik luarnegeri AS. Pada tahun 1986 Jendral Jose Bueso Rosa  terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Honduras Roberto Suazo Cordova. Upaya pembunuhan ini diduga terkait dengan sikap sang presiden yangtidak koperatif untuk mendukung pemerintah AS dalam upaya mendukung gerilyawan Contra di Nicaragua.Bueso juga terlibat dalam penyelundupuan 345 kilo heroin senilai 40 juta dolar AS. Namun karena jasanya mendukung  gerilyawan contra yangdidukung As pemerintahan Reagan memberi tekanan agar sang jendral diberi hukuman ringan yaitu 5 tahun penjara di

Florida

.[10]

Pada tahun 1980, aliansi antara CIA,  perwira militer dan mafia narkotik berkoloborasi untuk melakukan  apa yang disebut dengan peristiwa ‘kudeta kokain’ atas pemerintah Bolivia  yang berkuasa. Upaya kudeta ini bertujuan untuk menjatuhkan pemerintah yang berkuasa karena dianggap amerika memiliki kecenderungan sosialis. Mafia narkotik mendukung kudeta sebab pemerintahan yang baru menjalankan kebijakan anti narkotik yang keras sementra pemerintah Amerika dan sekutu militernya   ingin memberikan tekanan kepada gerakan sosialis di Amerika latin.

Di Nicaragua,  pemerintahan Ragan  sangat terobsesi untuk menhancurkan  pemerintahan sosialis Daniel Ortega dengan menghalalkan segala cara. Untuk itu pemerintahan Reagan dapat mentolerasi dan melindungi para pedagang narkotik sejauh para pedagang tersebut  memberikan dukungan pada gerilyawan sayap kanan  Contra yang didukung amerika. CIA bekerjasama dengan dua orang pedagang narkotik Rafael Caro Quintero dan Miguel Angel felix Gallardo, yang dikenal sebagai penyuplai narkotik sebanyak hampir 4 ton perbulan ke AS. Para mafia lainnya yang juga terlibat hubungan dengan CIA dalam upaya mendukung Contra adalah Manuel Noriega (Panama), John Hull (Costa Rica), Felix Rodriguez (El Salvador), Juan Ramon Matta Ballesteros (Honduras)serta dengan dukungan dari sekutu militaemala dan Honduras.( Gary Webb author of the Dark Alliance series and book). Kerjasama dengan para mafia nrkotik ini juga menghasilkan uang untuk mendukunggerilyawan contra.”drug money was a perfect solution to the Contras' funding problems." [11]

Di kolombia, baru-baru ini  unit militer yang didukung oleh militer Amerika  memburu pimpinan gerilyawan kiri FARC hingga masuk kewilayah

Honduras

dan

Venezuela

. Ketegangan diplomatik sempat terjadi dengan

Honduras

dan 

Venezuela

akibat insiden perbatasan tersebut. Pemerintah Kolombia adalah contoh pemerintahan yang secara setia menjadi kaki tangan AS untuk menjalankan strategi ‘politik dan perang melawan narkotik. Pada kenyataaanya, bantuan militer dari AS lebih banyak digunakan secara sistematis untuk melakukan perang sipil melawan  oposisi kiri, aktivis gerakan rakyat  dan gerilyawan kiri FARC. Militer dan para militer memasuki desa-desa dan melakukan berbagai pelanggaran Ham berat atas rakyat sipil dengan tuduhan mendukung gerilyawan FARC. “The

U.S.

officially sends money to fight narcotics production under the aegis of the War on Drugs; however, that money is used extensively by the Colombian military to fight the rebels, not the actual elements of

Colombia

's illicit drug economy. “

               Di Haiti CIA mendukung militer untuk melakukan oposisi atas presiden populis jean Bertrand Aristide yang menolak jalan kapitalisme ala Bank Dunia dan IMF dan membersihkan pemerintahan dari pengaruh  perdagangan narkotik.  Militer 

Haiti

, yang menjadi sekutu AS terkenal karena keterlibatan mereka dengan perdagangan narkotik. Akhirnya kepentingan politik amerika  dan para jendral bertemu dalam gerakan untuk menggulingkan presiden Aristide.

        

               Pencucian Uang

               

               Pada tahun  1994 The UN Commission on Narcotic Drugs  memperkirakan transaksi penjualan narkotik diseluruh dunia berkisar antara  400 milyar dollar US hingga 500  milyar US setahun.  Itu berarti senilai dengan 10 hingga 13 persen dari total perdagangan diseluruh dunia selama setahun. Perdagangan narkotik menghasilkan  transaksi dagang yang lebih besar daripada perdagangan internasional minyak, mineral yang menyumbang sekitar 9.5 persen perdagangan internasional. Lebih besar dari perdagangan bahan kimia yang mencapai 9.5 persen. Lebih banyak daripada perdagangan internasional bahan makanan, binatang hidup dan tembakau yang mencapai sektiar 9 persen dari perdgangan dunia.   Jumlah dana yang bermain dalam bisnis narkotik dua kalilipat daripada dana global perusahaan farmasi (US$215 milyar dollar US di tahun 1993) dan 7 hingga 8 kali lebih banyak dari dana asistensi pembangunan global yang mencapai 66.6 milyar dollar pada tahun 1993.[12] 

               Di AS memang tidak  terdapat data yang  resmi tentang jumlah  uang yang terkumpul dari hasil perdagangan illegal narkotik.Tapi sebagai gambaran pada tahun 1981 pemerintah AS menduga uang yang dihasilkan dari perdagangan narkotik sekitar 3 trilyun dollar AS. Jumlah ini lebih banyak dari perdagangan internasional semua komoditi yang hanya mencapai satu  trilyun dolar.  Dengan data ini dapat diduga bahwa uang dari narkotik memainkan peran penting dalam politik dan ekonomi amerika, meskipun angkanya tidak tercatat dalam statistic ekonomi yang resmi.

               Perdagangan narkotik  jelas menghasilkam uang dalam jumlah besar.  Industri  bank tampaknya  mendapatkan keuntungan besar dari bisnis narkotik dengan menyediakan diri untuk tempat  penyimpanan dan pencucian uang. CIA sendiri dianggap mengambil peranan dalam proses pencucian uang tersebut. Biasanya pihak bank akan mencurigai transaksi uang dalam jumlah besar apalagi dalam bentuk tunai. Tapi bila bekerjasama dengan CIA, semua kecurigaaan ini bisa dilewati  atas nama “keamanan nasional.[13]

               Wartwawati  Veronica Guerin, yang dibunuh karena  investigasinya dalam soal pencucian uang  mengatakan bahwa sebetulnya bila ingin menangkap para Bandar narkotik polisi cukup mengikuti aliran transaksi uang 'follow the money and they would and find the crook.” Tapi pada kenyataanya para pelaku dilindungi oleh bank itu sendiri.[14] 

               Bank bekerjsama dengan para mafia narkotik karena mendapatkan persentase keuntungan yang besar dalam waktu cepat, bila perlu dengan mengakali dan melanggar aturan yang ada. Citibank misalnya, di investigasi oleh Kongres karena menyimpan uang  senilai 80 hingga 100 juta dolar milik Raul Salinas de Gortari, adik dari mantan presiden Mexico Carlos Salinas.[15] 

               Salah satu bank yang juga dikenal sebagai tempat pencucian uang adalah The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) yang dekat dengan lingkaran politik Margaret Thatcher, sekutu dekat Presiden As Ronald Reagan.  Bank ini mempunyai 3000 langganan yang terkait dengan kajahatan seperti perdagangan senjata dan perdaganan narkotik. Noriega mempunyai 9 account di bank ini dengan deposit berjumlah 17.3 juta poundsterling antara tahun 1980-1988. Oliver North, sekertaris pertahanan dijaman  Reagan mempunyai 3 account. Uniknya Bank of 

England

tidak menemukan hal yang mencurigakan dari bank ini. Bahkan Margareth  Thatcher pernah diusulkan oleh pendukung dekatnya untuk menjadi presiden dari Bank ini. Pada tahun 1991 ketika BCCI mengalami kebangkrutan, Thacher berupaya membelanya dengan mengatakan bahwa BCCi mengalami perlakuan yangtidak dil dari Bank of England. [16]Laporan dari

Police

Foundation

dan

University

of

Wales

memperkirakan uang yang dicuci dari hasil penjualan narkotik di Ingris tiap tahun bernilai 2.5 miliar paoundsterling pertahun.

Tyrants_in_his_pants

Penutup

Strategi war on drugs yang dijalankan oleh pemerintah Amerika Serikat sangat jelas  telah menimbulkan berbagai kerusakan berantai  dan terbukti gagal untuk menghentikan perdagangan narkotik itu sendiri. Saratnya kepentingan ideologi dan politik Amerika dalam strategi perang melawan narkotik  membuat perang ini justru keluar dari relnya, terseret oleh kepentingan politik global amerika serikat.

Kita tahu  pemberantasasn perdagangan narkotik di

Indonesia

  juga mendapatkan dukungan luas dari pemeritnah Amerika Serikat. Karena itu perlu kehati-hatian agar, perang melawan narkotik di

Indonesia

tidak mencopypaste cara Amerika atau tidak menjadi bagain dari  strategi ‘politik global “ amerika serikat.

Strategi perang melawan narkotik ala cowboy amerika juga telah melupakan satu factor penting yaitu para korban narkotik itu sendiri. Di Amerika para korban secara umum diperlakukan sebagai kriminil, tidak berbeda dengan para mafia pedagang narkotik. Karena diperlakukan sebagai kriminil, maka “penjara” menjadi tempat penampungan bagi para korban itu sendiri. Dana ‘war on drugs’ untuk pelatihan militer yang sia-sia  tidak sebanding dengan bantuan pusat rehabilitasi untuk para korban itu sendiri.

Dari strategi “War on Drugs” yang  menjadi strategi Amerika Serikat dapat dilihat  kehancuran-kehancuran lebih luas yang diakibatkanya:

Pertama; perang tersebut lebih sarat dengan kepentingan politik dan ideologi Amerika  daripada  motif untuk menghancurkan perdagangan narkotik. War on drug lebih tampak sebagai strategi Amerika Serikat untuk mengklaim dirinya sebagai polisi dunia.

Kedua: perang tersebut terbukti, dalam banyak kasus (terutama di Amerika Latin) telah membantu konsolidasi dan hegemoni politik sekutu-sekutu militer sayap kanan AS untuk mempertahankan kekuasaan atau untuk merebut kekuasaan.

Ketiga; kerjasama  pelatihan militer dan operasi militer dengan Amerika Serikat jelas lebih memperkuat militerisme dan penyalah gunaan bantuan oleh sekutu-sekutu militer AS untuk melakukan  berbagai pelangaran HAM kelas berat.

Keempat;  ‘war on drugs’ menjadi    alat illegal dari ‘perang kotor’ pemerintah AS atas lawan-lawan politiknya yang diangap tidak segaris dengan kepentingan  Amerika Serikat.

Kelima, strategi ‘war on drugs’ telah menciptakan korupsi,  penyucian uang dan  ‘bisnis ilegal’; yang melibatkan institusi resmi negara (seperi CIA, DEA, FBI, Dept. pertahanan, sekretaris pertahanan dll)

Keenam; strategi ‘war on drugs’ sama sekali tidak mengurusi dan mempunyai program yang berpihak kepada ‘para korban pemakai narkoba’, tapi menempatkannya sebagai ‘kriminil’ sama dengan para pedagang dan mafia narkotik itu sendiri.


[1] Penulis adalah Koordinator Litbang Perkumpulan Praxis. Tulisan ini adalah paper pengantar dalam PERTEMUAN NASIONAL HARM REDUCTION (PNHR) KE-II MAKASSAR, 15 – 18 Juni 2008

[2] Ex-DEA agent Michael Levine: The Big White Lie: The CIA and the Cocaine/Crack Epidemic. http://ciadrugs.homestead.com/files/purpose.html

[3] A Society Of Suspects:The War on Drugs and Civil Liberties. by Steven Wisotsky Sumber: http://www.cato.org/pubs/pas/pa-180.html)

[4] The CIA and Drugs: An Introduction. http://ciadrugs.homestead.com/files/purpose.html

[5]. Francis W. Belanger. Drugs, the

U.S.

, and Khun Sa. 1989.Editions Duang Kamol,

Siam Square

Bangkok

,

Thailand

 

[6] From buku; Peter Dale Scott. Drugs, Oil, And War: The 

United States

in

Afghanistan

,

Colombia

and

Indochina

. March 2003. Rowman & Littlefield.

[7] Pater Dale Scoot and Jonathan Marshall. Cocaine Politics. 

Berkeley

and

Los Angeles

:

University

of

California

Press, 1991 .

[8] Martin Jelsma .”Democracy, Human Rights, and Militarism In the War on Drugs in Latin America.” http://www.tni.org/detail_page.phtml?page=reports_drugs_folder1_jelsma

[9] Robert Brophy and Peter Zirnite. “

U.S.

Military Training for

Latin America

,Volume 2, Number 48October 1997. http://www.fpif.org/briefs/vol2/v2n48mil.html)

[10] .As Francis J. McNeil, former Deputy Assistant Secretary of State for Intelligence and Research noted, in 1986, eight top officials, led by North, persuaded a federal judge to grant a lenient sentence to Honduran Gen. Jose Bueso-Rosa. http://ciadrugs.homestead.com/files/purpose.html

[11] "Kerry Report": Drugs, Law Enforcement and Foreign Policy